Rabu, 29 Januari 2014

Posted by Ai Rahmawati | File under :

Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas. Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpurukan Anda saat ini. Anda terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan. Bila Anda tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada diri Anda: "Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan di derita oleh diri saya sendiri? Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidup saya? Siapa yang berkuasa disini, diri saya--ataukah trauma?" Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon.Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri. Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama. Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah daribmasa lalu adalah pikiran kita sendiri.Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup Anda sendiri. Ai temanku yang teguh hatinya, ingatlah hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang sibuk mengingat masa lalu. Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri.Saat kita merasa sedih dan putus asa,atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita. Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita? Tetaplah tegar dan percaya diri,berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur. Itu baru temennya Anne Ahira :-)

Posted by Ai Rahmawati | File under :

Dear Ai, temanku yang luar biasa...Sekalipun engkau hidup berlimpahan dan berkecukupan dana, tetaplah hidup dengan sederhana.Tidaklah sulit menciptakan sifat yang baik yaitu sikap rendah hati dan sederhana. Orang yang memiliki sikap rendah hati selalu berusaha menjadi pribadi yang bisa menerima orang lain, tidak sombong, atau terlalu memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki.Tidak usahlah kita risaukan, jika orang lain tidak tahu apa yang kita miliki atau seberapa tinggi kemampuan kita melakukan segala sesuatu. Orang lain bisa menilai 'kualitas seseorang' hanya dengan melihat sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari yang kita lakukan. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menjaga diri kita sendiri. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menempatkan diri di posisi yang nyaman, tenang, damai dan tentram.Jika hati sudah merasa nyaman, damai dan tentram, maka secara otomatis Anda akan tampak bersahaja dan bahagia.  Bukankah itu yang kitai nginkan? :-)Marilah kita bersikap rendah hati,dan membiasakan diri, untuk selalu hidup sederhana...

Posted by Ai Rahmawati | File under :

Tidak baik jika kita menutup-nutupi kelemahan dan kegagalan dengan banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah kegagalan itu sebagai pengalaman dan pelajaran berharga, agar bisa jadi pedoman dan tuntunan untuk mencapai kemajuan dan keberhasilan yang lebih berarti di kemudian hari.Dear Ai,Kita tahu bahwa dunia ini selalu berputar. Adakalanya manusia ada dibawah, atau sebaliknya ada di atas.Ada orang bertanya kepada saya, bagaimana dengan kenyataan yang sering kita lihat begitu banyak orang-orang yang selalu di bawah? Bukankah mereka juga tinggal di bumi yang sama dengan orang-orang yang mampu dan kuat berada di atas? Seringkita lihat orang-orang yang sudah diatas malah semakin ke atas.Temanku, pandangan itu semua hanyalah ironi. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka yang sudah ada di atas. Kebanyakan di antara kita melihat mereka yang di atas selalu dari 'materi' atau jabatan.Namun percayalah, setiap orang mengalami pasang surut.Belajarlah dari orang-orang yang sudah ada di atas, dan orang-orang yang berada di bawah. Jangan hanya melihat ke atas.Banyak pelajaran yang bisa diambil dari keduanya, yang bisa engkau jadikan bekal tuk menjadi pribadi yang luhur bijaksana, sukses lahir dan batin.Pepatah mengatakan:"Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika dia berdiri dan memberiperintah. Kebesaran seseorang akan terlihat ketika dia berdiri sama tinggi dengan orang lain, dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka untuk mencapai sukses" - Prof.G. Arthur KeoughJanganlah suka cari alasan untuk menutupi kegagalan. Sebaliknya,carilah terus 'cara' untuk menggapai keberhasilan.

Rabu, 20 November 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Success Tips #1 

Pikir itu pelita hati...sukses, keunggulan, dan kelebihan itu milik semua orang...yang mau berusaha! Pelita harus dinyalakan, baru akan terang.  Ada pepatah mengatakan:
'Nyalakanlah pelitamu di tempat yang gelap dan tinggi, agar bisa menerangi semua sudut dan segi, tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk semua orang yang belum menemui jati diri.'
Semoga Newsletter ini dapat menjadi PELITA yang bisa menerangi hidup kita untuk menjadi lebih santun, rukun, dan bahagia. Agar pikiran, ucapan, dan perbuatan kita selalu terang. Hidup lebih bermakna dan berguna bagi sesama.

Success Tips #2

Untuk temanku:
Ai, insan manusia yang luar biasa...
Ketika pikiran kita terfokus pada sebuah tujuan, maka secara otomatis akan tercipta sebuah komitmen. Dan komitmen biasanya ditentukan oleh karakter. Orang yang telah mengenali karakternya biasanya akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan dirinya, yaitu memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya secara efektif, dan unik!

Kita tahu, setiap manusia memiliki DNA yang berbeda. Nah, kita harus bisa menempatkan keunikan  yangada agar menjadi nilai tambah bagi kita. Hindari membuat keunikan yang ada menjadi keanehan pada diri kita, yang bisa membuat kita tampak konyol dan tidak simpatik. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki penggemar Lady Gaga. Dia berusaha berbicara, berjalan, dan berpenampilan seperti Lady Gaga. Eh, yang ada malah dia kelihatan jadi gaga-gugu. :-)
Ai, jika engkau ingin menjadi orang hebat dan mencapai yang tertinggi, milikilah sifat unik yang tidak dibuat-buat. Jadilah dirimu sendiri!
Posted by Ai Rahmawati | File under :

OLEH : ERNI ALADJAI



Sebuah kota dengan jumlah pedestrian (pejalan kaki) terbesar adalah kota yang beradab. Sementara manusia pengguna mobil dan kendaraan roda dua adalah bagian yang tak manusiawi di kota besar (meski tak semua pengguna kendaraan tak menghormati pedestrian). 
Sikap manusia di kota besar yang tak manusiawi kemudian makin dikukuhkan oleh pemerintah, penata kota, pemilik mall dan pedagang kaki lima. Pemerintah bersekongkol dengan pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima menyerobot trotoar, pemerintah hidup dari pajak tak resmi si pedagang kaki lima. Di sisi lain, ada mall atau gedung perkantoran yang hanya menyediakan lahan parkir untuk mobil. Sehingga motor terparkir di trotoar. Hal lainnya sikap pelit tak pantas yang mendarah daging. Hingga manusia tak mau membayar pajak yang mahal sedikit, demi tempat parkir resmi─yang bukan di trotoar dan pinggir jalan. Di sisi yang lain lagi, demi keselamatan dan rasa aman, maka seseorang harus punya kendaraan.
Pernyataan saya di atas memang lugu dan sinis, tapi bagi saya, tak apa-apa untuk mengulang sesuatu yang batu dan terus berulang-ulang menjadi masalah fatal dan vital. Tahun 2004, ketika saya di Makassar, seorang pengendara motor ngebut dan menyalip saat saya menyeberang jalan, ketika saya memarahi dan mengingatkan ia untuk menghargai pedestrian, ia justru balik marah besar. Bukannya meminta maaf karena nyaris memutus nyawa seseorang. Ketika itu saya berpikir, Oh jadi jika Tuan sudah punya mobil atau kendaraan, maka jalan adalah milik Tuan, begitu? Pengguna jalan yang lain, yang menggunakan kaki─bukan mesin, bukanlah siapa-siapa. Tuan sungguh beradab!
Benny H Hoed, guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengatakan; di negeri kita, pemaknaan sosial atas tempat yang disebut “jalan” telah mengalami pemaknaan yang melenceng. Pembangunan jalan-jalan di kota-kota kita—termasuk di Jakarta (saya tambahkan, di Makassar juga)—seakan tidak memasukkan jalur khusus bagi pejalan kaki. Yang dipentingkan adalah jalur kendaraan bermotor.
Bahkan zebra cross kehilangan makna. Pengendara mobil dan kendaraan bermotor belajar melupakan Undang-undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan, bahwa mereka diharuskan mengalah kepada penyeberang jalan. Pejalan kaki di negeri kita, justru diminta mengalah untuk sesuka-suka hati pemilik kendaraan memberikan kesempatan menyeberang. Sungguh di negeri kita, orang belajar tidak adil dan menindas sejak di jalan. Saya jadi teringat perkataan Roland Barthes, bahwa kota besar paling sering tak manusiawi. 
Di Jakarta, tiga tahun belakangan ini, banyak anak muda, orang dewasa dan lansia yang vokal menuntut hak-hak pedestrian. Sebab mereka atau kita semua tahu, jalan kaki adalah memang bagian dari manusia. Banyak artikel kesehatan mengatakan jalan kakilah untuk mengurangi penyakit tulang, obesitas, diabetes, bahkan bisa mengurangi resiko terkena kanker payudara. 
Ada pula sebuah artikel kesehatan yang mengatakan berjalan kaki membuat kita bahagia karena jalan kaki bisa mengurangi resiko stres dan depresi, saya percaya ini. Tapi jika Anda berjalan kaki di kota-kota besar di Indonesia, maka yang terjadi adalah; saya jamin, anda  makin depresi.
Dan saat ini dengan imajinasi "berlebihan", saya membayangkan Indonesia bisa mencontoh Athena. Athena adalah kota paling beradab sejak zaman dewa-dewa. Julukan untuk kota ini adalah “Taman bermain para Dewa”. Label beradab Athena tak lepas dari cara manusianya memperlakukan para pejalan kaki. Bahkan istilah pedestrian sendiri bermula dari kisah Dewa Hermes dalam mitologo Yunani kuno. Dikisahkan Dewa Hermes adalah dewa pelindung para pengelana, pejalan kaki dan para saudagar yang mengembara. Itulah kenapa tata kota Athena teduh, jalanannya bersih, penuh taman, gedung-gedung penuh sentuhan kemanusiaan, sehingga semua orang bahagia saat berjalan kaki. 
Memang sebagai negara berkembang yang hanya tahu berkembang biak, terlalu jauh jika kita mencontoh tata kota Athena yang melindungi pejalan kaki, tapi kita bisa menengok negeri tetangga; Malaysia. Kenapa Malaysia yang dulunya di era Soekarno belajar banyak hal dari negeri kita, mampu melindungi pejalan kakinya, sementara negeri tercinta kita; Indonesia, tak berlaku begitu?
Ah, apakah Tuan dan Pemerintah kita pura-pura tidak tahu atau menutup mata, bahwa ketergantungan pada kendaraan bermotor menciptakan biaya menjulang pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan? Sementara negeri kita belum menjalankan manajemen mobilitas dengan sungguh-sungguh. Hingga sedikit pun warga tak diberi rasa aman seperti yang ditawarkan  negara-negara lain seperti; Singapura, Malasyia, Amsterdam, San Fransico atau Praha. 
Belanda adalah negara yang paling serius menerapkan manajemen mobilitas, banyak perusahaan di Amsterdam menurunkan tingkat pemakaian mobil hingga 10 persen, yang kemudian diganti dengan sepeda.  
Kini kita hanya bisa merindukan era tahun 70-80-an, di mana ketika itu kota Makassar masih penuh pohon dan orang bepergian dengan jalan kaki. Trotoar tetap trotoar, tanpa tukang tambal ban. Tanpa tenda pedagang. Tanpa patung taman. Tanpa nisan yang sedang dijemur. 
Dan bagi saya, kota tanpa pejalan kaki adalah hampa.


Sumber asli : 
http://pohonsagu.blogspot.com/2013/11/kota-tanpa-pejalan-kaki-dimuat-di-kolom.html

Kamis, 24 Oktober 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :

Fungsi Bahasa
Dalam literatur bahasa, para ahli umumnya merumuskan fungsi bahasa bagi setiap orang ada 4, yaitu :  
1). Sebagai alat berkomunikasi 2). Sebagai alat mengekspresikan diri 3). Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi social 4). Sebagai alat kontrol sosial
Ragam Bahasa dan Laras Bahasa
Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa dapat dibedakan berdasarkan media pengantarnya dan berdasarkan situasi pemakaiannya. Berdasarkan media pengantarnya, ragam bahasa dapat dibedakan atas dua macam, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Berdasarkan situasi pemakaiannya, ragam bahasa dapat dibagi atas tiga macam, yaitu ragam formal, ragam semi formal dan ragam non formal.
Perbedaan ragam lisan dan ragam tulis :
Ragam Lisan 
1). Menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara 2). Unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. 3). Sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. 4).  Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara
Ragam Tulis 
1). Tidak mengharuskan adanya teman bicara berada didepan 2). Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada didepan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu. 3). Tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu. 4). Dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.
Ragam Baku dan Tidak Baku
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
Sifat-sifat Ragam Baku : 
1). Kemantapan dinamis (sesuai dengan kaidah bahasa dan tidak kaku). 2). Cendekia (ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai pada temapat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah). Disamping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca). 3). Seragam (ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya proses pembakuan ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman).
Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya. Pemerintah sekarang mendahulukan ragam baku tulis secara nasional. Usaha itu dilakukan dengan menerbitkan masalah ejaan bahasa Indonesia, yang tercantum dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ukuran dan nilai ragam baku lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.
Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Baik ragam lisan maupun ragan tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil.

Referensi
Amando, M. 1962. Uraian Kalimat dan Kata-kata. Djakarta : Pustaka Rakyat. 
Tera, R.I. 2010. Panduan Pintar EYD. Yogyakarta: Indonesia Tera. 
http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
Munaf, Husen. 1947. Tata Bahasa Indonesia. Edisi Kedua 1951. Djakarta : Fasco. 
Chamdijah, Sitti. 1970. Teori Bahasa Indonesia. Djakarta : Gadjah Mada.
 

Senin, 10 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
1. Sumber Media Pembelajaran Kontekstual dan Elektronik
1.1. Media Pembelajaran kontekstual IPS di SD

Dewasa ini media pendidikan memiliki peranan penting di dalam proses pembelajaran. Dunia pendidikan menuntut penggunaan media pendidikan dari yang sederhana sampai yang canggih. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran karena siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya lingkungan sekitar, buku literature, TV, surat kabar, majalah, dan jaringan internet.

Masalahnya sekarang apakah guru IPS sudah memanfaatkan berbagai media sebagai sumber pembelajaran secara efektif?

Pengertian Media

Media berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang berarti perantara atau alat (sarana) untuk mencapai sesuatu.

Assosiation for Education and Communication Technology (AECT) mendifinisikan media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk sesuatu proses penyaluran informasi.

Sedangkan Education Assiciation (NEA) mendifinisikan media sebagai benda yang dapat di manipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.

Lebih jelas lagi Koyo K dan Zulkarimen Nst (1983) mendefinisikan media sebagai berikut: “Media adalah sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemampuan seseorang sehingga dapat mendorong tercapainya proses belajar pada dirinya”.

Husain Achmad menyatakan bahwa media pendidikan pengertiannya identik dengan peragaan.

Oemar Hamalik menyatakan bahwa media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Sedangkan media pengajaran menurut Kosasih Djahiri, 1978/1979 : 66 adalah segala alat bantu yang dapat memperlancar keberhasilan mengajar. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar, guru harus selalu menghubungkan alat bantu mengajar dengan kegiatan mengajarnya.

Pendekatan Kontekstual

Kontekstual diambil dari kata asalnya dalam Bahasa Inggris, yaitu contekstual yang berarti memiliki hubungan dengan konteks atau dalam konteks, yang berkenaan, relefan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna, dan kepentingan (meaningful).

Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu, baik secara individu maupun kelompok.

Pendekatan kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota kelurga dan masyarakat.

Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran.

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam ungkapan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik.

Minggu, 09 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Keterampilan Belajar Abad 21 Untuk Melatih Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah Melalui Sistem Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology)

Abad 21 yang dikenal semua orang sebagai abad pengetahuan yang merupakan landasan utama dari segala aspek kehidupan. Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian keterampilan tersebut dapat dicapai dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan keterampilan.

Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak siswa melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan dalam kehidupan penting untuk mendorong motivasi belajar siswa. Secara khusus pada dunia pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan penguasaan materi oleh siswa. (Patrick Griffin & Barry McGaw. 2012)

Untuk memasuki New world of work pada abad 21, Keterampilan belajar abad 21 mempunyai ciri:
  1. Critical thinking and problem solving.
  2. Creativity and innovation.
  3. Collaboration, teamwork, and leadership.
  4. Cross-cultural understanding, communications, information, and media literacy.
  5. Computing and ICT literacy.
  6. Career and learning self-reliance.
Ada 4 kategori keterampilan yang diperlukan pada abad 21 diantaranya sebagai berikut :
  1. Ways of thinking (Cara berpikir); Kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan belajar.
  2. Ways of working (Cara kerja dan Komunikasi); Kolaborasi dan Komunikasi (communication).
  3. Tools for working (Alat untuk bekerja); Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan informasi literasi.
  4. Skills for living in the world (Keterampilan untuk hidup di dunia); Kewarganegaraan - lokal dan global (citizenship – local and global), Kehidupan dan karier (life and career), Personal dan tanggung jawab sosial-budaya, termasuk kesadaran dan kompetensi (personal and social responcibility, including cultural awarness and competence).
Beberapa karakter belajar yang diperlukan di abad ke-21, yaitu :
  1. Communication. Pada karakter ini, siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia.
  2. Collaboration. Pada karakter ini, siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda.
  3. Critical Thinking and Problem Solving. Pada karakter ini, siswa berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem.
  4. Creativity and Innovation. Pada karakter ini, siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
Bentuk pembelajaran berbasis ICT memberikan manfaat bagi para guru diantaranya sebagai berikut : 
  1. Memperoleh materi pembelajaran dengan akses lebih mudah. Guru dalam melakukan persiapan mengajar akan lebih ringan karena guru dapat langsung menyeleksi, menyalin dan mengedit materi yang akan disajikan;
  2. Meningkatkan kompetensi pedagogik pendidik, salah satunya kreativitas serta inovasi mengembangkan konten pembelajaran;
  3. Guru dapat menyusun materi sesuai dengan kebutuhan peseta didik akan kehidupan nyata; dan
  4. Meningkatkan komunikasi interaktif dengan para peserta didik tanpa batas ruang dan waktu.
Peran Standar Evaluasi dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21

Standarisasi berbasis evaluasi memberikan bukti empiris untuk menilai kinerja dan dapat melayani berbagai pengambilan keputusan demi mencapai tujuan (akuntabilitas, seleksi, penempatan, evaluasi, diagnosis, atau perbaikan), evaluasi yang telah dilakukan di masa lalu seperti telah menemukan efek yang cukup seragam, yaitu :
  1. Evaluasi menjadi prioritas kurikulum dan pengajaran, sandaran visibilitas berfungsi untuk memfokuskan standar isi pendidikan.
  2. Guru cenderung menggunakan pendekatan model pedagogis high visibility yang bergantung pada tes.
  3. Instruksi yang telah digunakan lebih menekankan keterampilan kognitif tingkat rendah.
  4. Pengembang kurikulum khususnya untuk kepentingan komersial, menanggapi tes penting dengan memodifikasi buku yang ada dan bahan ajar lainnya atau pengembangan dan pemasaran buku-buku baru.
  5. Sekolah dan guru terlalu fokus pada aspek-aspek yang akan diujiankan bukan pada apa yang menjadi standar atau tujuan pembelajaran.
  6. Evaluasi lebih difokuskan pada tes bukan pembelajaran yang mendasarinya.
  7. Pembelajaran instruksional diarahkan pada tes, sekolah memberikan para siswa berbagai jenis tes mulai dari kegiatan ujian “komersial”, kelas khusus, pekerjaan rumah, dan lain-lain.
  8. Desain dan pengembangan evaluasi harus menyatukan dasar penelitian yang kaya ada pada proses siswa belajar dan bagaimana itu berkembang untuk menghasilkan generasi baru.

Sabtu, 08 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Model Pembelajaran IPS ialah sebagai desain pembelajaran inkuiri (inquiry approach). Yaitu sebagai sebuah metode mengajar yang berorientasi pada latihan meneliti dan mempertanyakan, istilah ini sejajar dengan metode pemecahan masalah, berfikir reflektif dan atau "discovery" (Hagen, 1969).

Di bawah ini merupakan materi Model Pembelajaran IPS dari bapak Ibnu Hurri, H. S.sos
  1. Model Pembelajaran IPS - Bagian 1 ( Download )
  2. Model Pembelajaran IPS - Bagian 2 ( Download )

Jumat, 07 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Beberapa waktu lalu kami (mahasiswa) di tugaskan untuk membuat bahan ajar IPS oleh bapak Ibnu Hurri, tugas ini lumayan menguras tenaga dan fikiran, alasannya banyak, salahsatunya karena kami belum terbiasa membuat bahan ajar seperti ini.

Bahan ajar ini tentang "Gejala/Peristiwa Alam yang Terjadi di Indonesia," untuk SD kelas VI semester 2, 

Di bawah ini saya cantumkan link download bagi teman-teman yang ingin membaca, saya juga dengan senang hati akan mendengar tanggapan atau komentar dari teman-teman untuk perbaikan tugas ini dan sebagai acuan saya untuk membuat bahan ajar selanjutnya.
  1. Bahan Ajar ( Download )
  2. Bahan Ajar ppt ( Download )

Kamis, 06 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Buku Ecological Literacy karya David W. Orr dan Fritjof Capra adalah buku yang menjelaskan tentang re-orientasi cara manusia hidup di Bumi serta mendidik anak-anak untuk memiliki kemampuan yang tinggi. Buku ini dinilai menjadi sebuah terobosan baru karena menyatakan pemikir dan pendidik memiliki banyak kesamaan, sehingga pendidik dapat disebut pemikir atau peneliti.

Melek Ekologi (juga disebut sebagai Ecoliteracy) adalah kemampuan untuk memahami sistem alam yang mendukung kehidupan di bumi. Melek ekologi ini sering disebut sebagai Kesadaran Ekologi. Kesadaran ekologi digunakan sebagai sarana untuk memahami prinsip-prinsip organisasi ekologi (yaitu ekosistem) serta penggunaan prinsip-prinsip untuk menciptalan komunitas manusia yang berkelanjutan. Istilah melek ekologi/sadar ekologi ini diciptakan oleh seorang pendidik dari Amerika yang bekerja di Pusat Ecoliteracy di Berkeley, California, dan fokus pada disiplin ilmu pendidikan lingkungan, yaitu David W. Orr dan Fisikawan Fritjof Capra pada tahun 1990-an. Mereka berdua memunculkan nilai baru dalam pendidikan, nilai tersebut dianggap dapat "menyejahterakan bumi."

Fokus pembelajaran melek ekologi ini menekankan pemahaman prinsip-prinsip dari organisasi ekosistem dan penerapan potensi mereka untuk memahami bagaimana membangun masyarakat manusia berkelanjutan. Menurut Fritjof Capra, "Dalam dekade mendatang, kelangsungan hidup umat manusia akan tergantung pada kesadaran ekologi kita serta kemampuan kita untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekologi dan hidup yang sesuai. Ini berarti kesadaran akan ekologi yang harus menjadi keterampilan paling penting bagi politisi, pemimpin bisnis, dan profesional di semua bidang, serta harus menjadi bagian paling penting dari pendidikan di semua tingkat, dari sekolah dasar dan menengah, untuk perguruan tingggi, dan pendidikan berkelanjutan serta pelatihan profesional."

David W. Orr menyatakan bahwa, "Tujuan melek ekologi adalah dibangun berdasarkan pengakuan bahwa gangguan ekosistem mencerminkan gangguan pikiran seseorang atau suatu lembaga, karena gangguan ekosistem tersebut menjadi pusat perhatian bagi lembaga-lembaga yang berkepentingan, hingga nantinya lembaga-lembaga tersebut serius memikirkan permasalahan ekologi yang terjadi serta mencari penyelesaiannya."

Dengan kata lain, krisis ekologi mencakup di dalamnya tentang krisis pendidikan. Semua pendidikan berkaitan dengan pendidikan lingkungan. Hal tersebut disebabkan karena kita semua berasal dan hidup di alam. Dengan memahami melek ekologi, secara alami menggeser persepsi yang selama ini ada. Kebutuhan untuk melindungi ekosistem bukan hanya sebuah keyakinan yang dipegang oleh seseorang dalam kepedulian terhadap lingkungan, akan tetapi merupakan suatu keharusan biologis dalam upaya bertahan hidup dari waktu ke waktu. Hal inilah yang dinilai akan menjadi prioritas dalam prinsip dasar pemikiran serta tindakan dalam masyarakat yang berkelanjutan.

Buku ini juga menjelaskan tentang usaha dalam menghadapi peningkatan sistem industri yang menyebabkan penghancuran habitat dan sistem iklim, yaitu deklarasi prinsip-prinsip melek ekologi dan peningkatan kesadaran akan pentingnya hidup dengan menjaga ekologis bumi.

Usaha tersebut dapat dilihat dan diterapkan dalam hubungan sistem pendidikan, yaitu keluarga, geografis, ekologis dan politik. Semua itu adalah upaya kita untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan. Usaha membangun masyarakat yang berkelanjutan tersebut tidak dapat berhasil kecuali generasi mendatang mau belajar bagaimana bekerja sama dengan sistem alami untuk saling menguntungkan mereka. Dengan kata lain, mereka dituntut harus menjadi "melek ekologis."

Laporan dan essay-essay yang dikumpulkan dalam buku ini mengungkapkan karya yang luar biasa tentang lingkungan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh para mitra sang penulis. Dalam satu sekolah menengah misalnya, ikon kuliner, Alice Waters mendirikan sebuah program yang tidak hanya menyediakan para siswa makanan sehat tetapi mengajarkan mereka untuk berkebun. Dengan demikian secara otomatis mereka dapat mempelajari secara langsung siklus hidup dan aliran energi sebagai bagian dari kurikulum mereka.

Penulis yang lain pun mengemukakan proyek siswa yang didukung oleh pusat pendidikan dan digambarkan dalam buku ini, seperti pembahasan dari restorasi sungai dan eksplorasi DAS untuk menghadapi isu-isu keadilan lingkungan di tingkat perumahan.

Dengan kontribusi dari penulis terkemukan dan pendidik, seperti Fritjof Capra, Ann Evans, Wendell Berry, Michael Ableman dan lain-lainnya mengakibatkan Literasi Ekologis yang menghubungkan teori dan praktek berdasarkan pemikiran terbaik tentang bagaimana dunia benar-benar bekerja dan bagaimana pembelajaran terjadi.

Orang tua dan pendidik yang terlibat dalam upaya-upaya kreatif untuk mengembangkan kurikulum baru dan meningkatkan pemahaman ekologi anak-anak, akan menganggap buku ini sebagai sebuah sumber daya yang berharga.

Buku ini mampu menunjukkan Pusat Ecoliteracy berada di barisa depan dari gerakan yang mengajarkan kita untuk menemukan koneksi pada masalah yang tampaknya terputus-putus, memandang pola bukannya potongan dan komunitas desain berdasarkan keterkaitan dari semua kehidupan.

Kelompok kami, yaitu kelompok 4 berkesempatan untuk menganalisis dan memberi ringkasan materi tentang "AKSI" yang ada pada BAB 4 buku  ECOLOGICAL LITERACY karya MICHAEL K. STONE dan ZENOBIA BARLOW.

Seperti yang kita ketahui, buku Ecological Literacy menceritakan tentang kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan di dunia pendidikan. Bab 4 ini lebih berfokus pada aksi atau tindakan nyata yang berhubungan dengan upaya kepedulian atau kesadaran lingkungan khususnya dalam bidang pendidikan.

Dibawah ini saya cantumkan pembahasan selengkapnya, apabila teman-teman bermaksud menggunakannya untuk kepentingan tugas teman-teman, saya mohon bersikaplah bijaksana dengan mencantumkan link blog ini. Terimakasih :)
  1. Bab Pendahuluan ( Download )
  2. Bab Pembahasan ( Download )
  3. Bab Kesimpulan ( Download )

Rabu, 05 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Maraknya pemberitaan tentang Kurikulum 2013 yang menimbulkan pro dan kontra, menjadi topik hangat yang banyak dibicarakan oleh para praktisi pendidikan baik di tingkat daerah maupun di tingkat Nasional. Hal ini karena Kurikulum sebelumnya, yaitu KTSP dinilai oleh sebagian orang sesuai dan layak diterapkan lebih lama lagi dalam pendidikan di Indonesia, namun sebagian orang lainnya menilai KTSP sudah harus diganti untuk menghadapi perkembangan dan tantangan jaman.

Kelompok kami yang beranggotakan : Rahmadhani Annisa N, Alfiska Oktayati, Apriliani, Hani Rahayu, Ai Rahmawati, Puti Ekowati Utami, Mira Nurlatifah, Dea Sri Mei Pratiwi, Wilda Nurul Huda, Venny Erliyani, Ema Rahmawati, Risqi Oktaviani, Desy Ismayanti, Linggar Jati, Silmi Silawati, Durahman, Fiska Lestari dan Argi Gilang Hudaeva, mencoba menganalisis kekurangan dan kelebihan dari kedua bentuk kurikulum tersebut. Dibawah ini saya cantumkan hasil analisis kami, apabila teman-teman ingin mendownload silahkan tetapi mohon untuk mencantumkan link sumbernya!
  1. Pendahuluan ( Download )
  2. Pembahasan ( Download )
  3. Kesimpulan ( Download )
  4. Daftar Pustaka ( Download )

Selasa, 04 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Kasus :
  1. Kebiasaan anak jalanan yang suka ngelem
  2. Tawuran pelajar
Dari kedua kasus tersebut saya menilai bahwa adanya kekaburan nilai terhadap anak-anak bangsa. Kekaburan nilai artinya hilangnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Kekaburan nilai tersebut disebabkan karena kurangnya kepedulian dari berbagai pihak untuk menanamkan norma yang baik terhadap pelaku. 

Dari kasus yang pertama tentang anak jalanan, mereka bukan hanya terbiasa ngelem, tetapi juga berbicara kotor dan kasar. Hal ini mungkin karena pengaruh dari lingkungan mereka sehari-hari.

Fict from here

Kasus yang kedua tentang tawuran pelajar, yang beberapa waktu lalu menelan korba jiwa juga merupakan potret buruk pendidikan dan merupakan kelalaian berbagai pihak dalam hal ini keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat luas.

Fict from here

Sebuah artikel yang ditulis oleh Nadia Juli Indrani (Biologi 2007) di sebuah blog http://alhayaat.wordpress.com menyebutkan bahwa alasan anak-anak jalanan ngelem bermacam-macam, ada yang untuk menahan lapar dan adapula yang hanya mengikuti teman-temannya. Karena hal tersebut, sangat penting bagi pemerintah untuk mendirikan rumah-rumah singgah, hal ini berkaitan dengan Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "Fakir miskin dan anak-anak yang terlantur dipelihara oleh negara."

Dalam kasus tawuran pelajar, bukan hanya peran sekolah yang diperlukan, tetapi peran keluarga juga sangat penting. Namun saat ini, akibat dari pengaruh globalisasi dalam kehidupan khususnya dalam bidang komunikasi, ekonomi, politik dan teknologi menyebabkan pergeseran nilai kehidupan yang juga berakibat pada keluarga, yaitu perubahan dalam hubungan antara orangtua dan anak dan hal ini berpengaruh juga terhadap pandangan dan fungsi-fungsi keluarga.

Sayiful Bahri Djamarah (2004 : 55) mengemukakan bahwa "Kehidupan keluaarga yang harmonis perlu dibangun diatas dasar sistem interaksi yang kondusif. Pendidikan dasar yang baik harus diberikan kepada anggota keluarga sedini mungkin dalam rangka memerankan fungsi pendidikan dalam keluarga, yaitu menumbuhkembangkan potensi laten anak, sebagai wahana untuk mentransfer nilai-nilai dan sebagai agen transformasi kebudayaan."

Interaksi didalam keluarga sangat penting karena akan mempengaruhi satu sama lain. Interaksi antara anak dengan orangtua akan membentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak sebagai hasil dari komunikasi. Anak akan mempunyai gambaran tertentu mengenai orangtuanya. Dengan adanya gambaran tersebut maka akan terbentuk juga sikap-sikap tertentu dari masing-masing pihak.

Kurangnya interaksi antara orangtua dengan anak bisa disebabkan karena kesibukan bekerja, menyebabkan fungsi pendidikan dalam keluarga terabaikan, anak jadi lebih sering bersama teman-temannya, hal ini berpengaruh terhadap perkembangan sikap anak karena pada usia tersebut biasanya ada keinginan menunjukan diri, jika lingkungan tempat mereka bergaul buruk, maka terjadilah penyimpangan seperti tawuran.

Karena adanya kekaburan nilai seperti yang disebutkan di awal, harus diperbaiki dengan pendidikan nilai. Dikutip dari tulisan H. Sofyan Sauri yang menyatakan bahwa "Pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu anak didik agar memahami, meyadari dan mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan."

Didalam IPS, pendidikan nilai juga bertujuan agar pendidikan tidak hanya diarahkan pada ranah Kognitif nya saja, tetapi juga Apektif dan Psikomotor nya. Selain menanamkan norma yang baik yaitu dengan pendidikan nilai, keterlibatan dari berbagai pihak juga sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Referensi :
http://alhayaat.wordpress.com/2009/09/21/anak-jalanan-dan-tuntutan-kepedulian/
Powerpoint tentang "Konsep Dasar IPS" oleh bpk. Ibnu Hurri, H. S.sos

Senin, 03 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Pengertian Pendidikan

Menurut Langeveld, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap pihak lain yang belum dewasa agar mencapai kedewasaan (M. I. Soelaiman, 1985).

Menurut W. P. Napitulu, pendidikan adalah kegiatan yang secara sadar, teratur dan terencana dalam tujuan mengubah tingkah laku kearah yang diinginkan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Menurut Edgar Dalle, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

Menurut Hartoto, pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis dan terus menerus dalam upaya memanusiakan manusia.

Pengertian IPS

Menurut Moeljono Cokrodikardjo, IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni Sosiologi, Antropologi, Budaya, Psikologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Ilmu Politik dan Ekologi Manusia yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.

Menurut Nu'man Soemantri, IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Penyederhanaan mengandung arti :
  1. Menurunkan tingkat kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di Universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa-siswi sekolah dasar dan lanjutan.
  2. Mempertautkan dan memadukan bahan aneka cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna.
Menurut A. Kosasih Djahiri (1979 : 2), IPS merupakan ilmu yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya, kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.

Menurut S. Nasution, IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Antropologi dan Psikologi Sosial.

Pengertian Pendidikan IPS

Menurut Somantri (Sapriya, 2008 : 9), pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.

Menurut Depdikbud 1983, pendidikan IPS pada hakikatnya adalah pendidikan interelasi aspek-aspek kehidupan manusia di masyarakat. Hakikatnya materi digali dari kehidupan sehari-hari yang nyata dalam kehidupan siswa dan masyarakat. Pendidikan IPS merupakan proses pengajaran yang memadukan berbagai pengetahuan sosial.



Referensi :
http://massofa.wordpress.com/2010/12/09/pengertian-ruang-lingkup-dan-tujuan-ips/
http://fatamorghana.wordpress.com/2009/10/07/pengertian-pendidikan/
http://utuy-semrawut.blogspot.com/2012/01/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_pgsd_0805741_chapter2.pdf
http://oktaseiji.wordpress.com/2011/04/24/konsep-dasar-ips-dan-ilmu-ilmu-sosial-dalam-pembelajaran/
http://blog.sunan-ampel.ac.id/heni/files/2010/10/IPS-1-Paket-1.pdf

Minggu, 02 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Dibawah ini merupakan jurnal penelitian dengan judul "Peran Keluarga dalam Membantu Menumbuhkan Sikap Kepedulian Sosial pada Anak SD" Penelitian dilakukan di SD Negeri Cipari Desa Kebon Pedes Kecamatan Kebon Pedes Kabupaten Sukabumi, oleh :
  1. Wilda Nurul Huda
  2. Dea Sri Mei Pratiwi
  3. Rijal Haryanto
  4. Ema Rahmawati
  5. Ai Rahmawati
  6. Mira Nurlatifah
Apabila dari teman-teman ada yang ingin mendownload dipersilahkan, dan kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun untuk pembuatan jurnal selanjutnya.
  1. Cover ( Download )
  2. Kata Pengantar ( Download )
  3. Daftar Isi ( Download )
  4. BAB I ( Download )
  5. BAB II ( Download )
  6. BAB III ( Download )
  7. BAB IV ( Download )
  8. BAB V ( Download )
  9. Daftar Pustaka ( Download )
  10. Lampiran ( Download )