Selasa, 04 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Kasus :
  1. Kebiasaan anak jalanan yang suka ngelem
  2. Tawuran pelajar
Dari kedua kasus tersebut saya menilai bahwa adanya kekaburan nilai terhadap anak-anak bangsa. Kekaburan nilai artinya hilangnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Kekaburan nilai tersebut disebabkan karena kurangnya kepedulian dari berbagai pihak untuk menanamkan norma yang baik terhadap pelaku. 

Dari kasus yang pertama tentang anak jalanan, mereka bukan hanya terbiasa ngelem, tetapi juga berbicara kotor dan kasar. Hal ini mungkin karena pengaruh dari lingkungan mereka sehari-hari.

Fict from here

Kasus yang kedua tentang tawuran pelajar, yang beberapa waktu lalu menelan korba jiwa juga merupakan potret buruk pendidikan dan merupakan kelalaian berbagai pihak dalam hal ini keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat luas.

Fict from here

Sebuah artikel yang ditulis oleh Nadia Juli Indrani (Biologi 2007) di sebuah blog http://alhayaat.wordpress.com menyebutkan bahwa alasan anak-anak jalanan ngelem bermacam-macam, ada yang untuk menahan lapar dan adapula yang hanya mengikuti teman-temannya. Karena hal tersebut, sangat penting bagi pemerintah untuk mendirikan rumah-rumah singgah, hal ini berkaitan dengan Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "Fakir miskin dan anak-anak yang terlantur dipelihara oleh negara."

Dalam kasus tawuran pelajar, bukan hanya peran sekolah yang diperlukan, tetapi peran keluarga juga sangat penting. Namun saat ini, akibat dari pengaruh globalisasi dalam kehidupan khususnya dalam bidang komunikasi, ekonomi, politik dan teknologi menyebabkan pergeseran nilai kehidupan yang juga berakibat pada keluarga, yaitu perubahan dalam hubungan antara orangtua dan anak dan hal ini berpengaruh juga terhadap pandangan dan fungsi-fungsi keluarga.

Sayiful Bahri Djamarah (2004 : 55) mengemukakan bahwa "Kehidupan keluaarga yang harmonis perlu dibangun diatas dasar sistem interaksi yang kondusif. Pendidikan dasar yang baik harus diberikan kepada anggota keluarga sedini mungkin dalam rangka memerankan fungsi pendidikan dalam keluarga, yaitu menumbuhkembangkan potensi laten anak, sebagai wahana untuk mentransfer nilai-nilai dan sebagai agen transformasi kebudayaan."

Interaksi didalam keluarga sangat penting karena akan mempengaruhi satu sama lain. Interaksi antara anak dengan orangtua akan membentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak sebagai hasil dari komunikasi. Anak akan mempunyai gambaran tertentu mengenai orangtuanya. Dengan adanya gambaran tersebut maka akan terbentuk juga sikap-sikap tertentu dari masing-masing pihak.

Kurangnya interaksi antara orangtua dengan anak bisa disebabkan karena kesibukan bekerja, menyebabkan fungsi pendidikan dalam keluarga terabaikan, anak jadi lebih sering bersama teman-temannya, hal ini berpengaruh terhadap perkembangan sikap anak karena pada usia tersebut biasanya ada keinginan menunjukan diri, jika lingkungan tempat mereka bergaul buruk, maka terjadilah penyimpangan seperti tawuran.

Karena adanya kekaburan nilai seperti yang disebutkan di awal, harus diperbaiki dengan pendidikan nilai. Dikutip dari tulisan H. Sofyan Sauri yang menyatakan bahwa "Pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu anak didik agar memahami, meyadari dan mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan."

Didalam IPS, pendidikan nilai juga bertujuan agar pendidikan tidak hanya diarahkan pada ranah Kognitif nya saja, tetapi juga Apektif dan Psikomotor nya. Selain menanamkan norma yang baik yaitu dengan pendidikan nilai, keterlibatan dari berbagai pihak juga sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Referensi :
http://alhayaat.wordpress.com/2009/09/21/anak-jalanan-dan-tuntutan-kepedulian/
Powerpoint tentang "Konsep Dasar IPS" oleh bpk. Ibnu Hurri, H. S.sos

0 komentar:

Poskan Komentar