Kamis, 06 Juni 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Buku Ecological Literacy karya David W. Orr dan Fritjof Capra adalah buku yang menjelaskan tentang re-orientasi cara manusia hidup di Bumi serta mendidik anak-anak untuk memiliki kemampuan yang tinggi. Buku ini dinilai menjadi sebuah terobosan baru karena menyatakan pemikir dan pendidik memiliki banyak kesamaan, sehingga pendidik dapat disebut pemikir atau peneliti.

Melek Ekologi (juga disebut sebagai Ecoliteracy) adalah kemampuan untuk memahami sistem alam yang mendukung kehidupan di bumi. Melek ekologi ini sering disebut sebagai Kesadaran Ekologi. Kesadaran ekologi digunakan sebagai sarana untuk memahami prinsip-prinsip organisasi ekologi (yaitu ekosistem) serta penggunaan prinsip-prinsip untuk menciptalan komunitas manusia yang berkelanjutan. Istilah melek ekologi/sadar ekologi ini diciptakan oleh seorang pendidik dari Amerika yang bekerja di Pusat Ecoliteracy di Berkeley, California, dan fokus pada disiplin ilmu pendidikan lingkungan, yaitu David W. Orr dan Fisikawan Fritjof Capra pada tahun 1990-an. Mereka berdua memunculkan nilai baru dalam pendidikan, nilai tersebut dianggap dapat "menyejahterakan bumi."

Fokus pembelajaran melek ekologi ini menekankan pemahaman prinsip-prinsip dari organisasi ekosistem dan penerapan potensi mereka untuk memahami bagaimana membangun masyarakat manusia berkelanjutan. Menurut Fritjof Capra, "Dalam dekade mendatang, kelangsungan hidup umat manusia akan tergantung pada kesadaran ekologi kita serta kemampuan kita untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekologi dan hidup yang sesuai. Ini berarti kesadaran akan ekologi yang harus menjadi keterampilan paling penting bagi politisi, pemimpin bisnis, dan profesional di semua bidang, serta harus menjadi bagian paling penting dari pendidikan di semua tingkat, dari sekolah dasar dan menengah, untuk perguruan tingggi, dan pendidikan berkelanjutan serta pelatihan profesional."

David W. Orr menyatakan bahwa, "Tujuan melek ekologi adalah dibangun berdasarkan pengakuan bahwa gangguan ekosistem mencerminkan gangguan pikiran seseorang atau suatu lembaga, karena gangguan ekosistem tersebut menjadi pusat perhatian bagi lembaga-lembaga yang berkepentingan, hingga nantinya lembaga-lembaga tersebut serius memikirkan permasalahan ekologi yang terjadi serta mencari penyelesaiannya."

Dengan kata lain, krisis ekologi mencakup di dalamnya tentang krisis pendidikan. Semua pendidikan berkaitan dengan pendidikan lingkungan. Hal tersebut disebabkan karena kita semua berasal dan hidup di alam. Dengan memahami melek ekologi, secara alami menggeser persepsi yang selama ini ada. Kebutuhan untuk melindungi ekosistem bukan hanya sebuah keyakinan yang dipegang oleh seseorang dalam kepedulian terhadap lingkungan, akan tetapi merupakan suatu keharusan biologis dalam upaya bertahan hidup dari waktu ke waktu. Hal inilah yang dinilai akan menjadi prioritas dalam prinsip dasar pemikiran serta tindakan dalam masyarakat yang berkelanjutan.

Buku ini juga menjelaskan tentang usaha dalam menghadapi peningkatan sistem industri yang menyebabkan penghancuran habitat dan sistem iklim, yaitu deklarasi prinsip-prinsip melek ekologi dan peningkatan kesadaran akan pentingnya hidup dengan menjaga ekologis bumi.

Usaha tersebut dapat dilihat dan diterapkan dalam hubungan sistem pendidikan, yaitu keluarga, geografis, ekologis dan politik. Semua itu adalah upaya kita untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan. Usaha membangun masyarakat yang berkelanjutan tersebut tidak dapat berhasil kecuali generasi mendatang mau belajar bagaimana bekerja sama dengan sistem alami untuk saling menguntungkan mereka. Dengan kata lain, mereka dituntut harus menjadi "melek ekologis."

Laporan dan essay-essay yang dikumpulkan dalam buku ini mengungkapkan karya yang luar biasa tentang lingkungan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh para mitra sang penulis. Dalam satu sekolah menengah misalnya, ikon kuliner, Alice Waters mendirikan sebuah program yang tidak hanya menyediakan para siswa makanan sehat tetapi mengajarkan mereka untuk berkebun. Dengan demikian secara otomatis mereka dapat mempelajari secara langsung siklus hidup dan aliran energi sebagai bagian dari kurikulum mereka.

Penulis yang lain pun mengemukakan proyek siswa yang didukung oleh pusat pendidikan dan digambarkan dalam buku ini, seperti pembahasan dari restorasi sungai dan eksplorasi DAS untuk menghadapi isu-isu keadilan lingkungan di tingkat perumahan.

Dengan kontribusi dari penulis terkemukan dan pendidik, seperti Fritjof Capra, Ann Evans, Wendell Berry, Michael Ableman dan lain-lainnya mengakibatkan Literasi Ekologis yang menghubungkan teori dan praktek berdasarkan pemikiran terbaik tentang bagaimana dunia benar-benar bekerja dan bagaimana pembelajaran terjadi.

Orang tua dan pendidik yang terlibat dalam upaya-upaya kreatif untuk mengembangkan kurikulum baru dan meningkatkan pemahaman ekologi anak-anak, akan menganggap buku ini sebagai sebuah sumber daya yang berharga.

Buku ini mampu menunjukkan Pusat Ecoliteracy berada di barisa depan dari gerakan yang mengajarkan kita untuk menemukan koneksi pada masalah yang tampaknya terputus-putus, memandang pola bukannya potongan dan komunitas desain berdasarkan keterkaitan dari semua kehidupan.

Kelompok kami, yaitu kelompok 4 berkesempatan untuk menganalisis dan memberi ringkasan materi tentang "AKSI" yang ada pada BAB 4 buku  ECOLOGICAL LITERACY karya MICHAEL K. STONE dan ZENOBIA BARLOW.

Seperti yang kita ketahui, buku Ecological Literacy menceritakan tentang kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan di dunia pendidikan. Bab 4 ini lebih berfokus pada aksi atau tindakan nyata yang berhubungan dengan upaya kepedulian atau kesadaran lingkungan khususnya dalam bidang pendidikan.

Dibawah ini saya cantumkan pembahasan selengkapnya, apabila teman-teman bermaksud menggunakannya untuk kepentingan tugas teman-teman, saya mohon bersikaplah bijaksana dengan mencantumkan link blog ini. Terimakasih :)
  1. Bab Pendahuluan ( Download )
  2. Bab Pembahasan ( Download )
  3. Bab Kesimpulan ( Download )

0 komentar:

Poskan Komentar