Kamis, 30 Mei 2013

Posted by Ai Rahmawati | File under :
Lahirnya kelompok sosial disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk berhubungan, tapi tidak semua hubungan tersebut dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Soerjono Soekanto (1982 : 111) mengemukakan beberapa persyaratan terbentuknya kelompok sosial, yaitu :
  1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya dalam kelompok.
  3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang bersangkutan yang merupakan unsur pengikat atau pemersatu. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama ataupun ideologi yang sama.
  4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
Mac Iver (1961 : 213) menyatakan bahwa "Kelompok sosial terbentuk melalui proses interaaksi dan sosialisasi, dimana manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dan memiliki kebersamaan untuk tolong menolong."

Proses yang berlangsung dalam kelompok sosial adalah "proses sosialisasi." Buhler (1968 : 172) menyatakan bahwa proses sosialisasi adalah "proses yang membantu individu dalam kelompok melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan serta berfungsi bagi kelompoknya."

Berdasarkan pengalaman dalam kelompok, manusia mempunyai sistem tingkah laku (behavior system) yang dipengaruhi oleh watak pribadinya. Sistem perilaku ini yang akan membentuk suatu sikap (attitude).

Klasifikasi Tipe-tipe Kelompok Sosial

Mac Iver dan Page (1957 : 213) menggolongkan kelompok sosial dalam beberapa kriteria, yaitu :
  1. Derajat interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.
  2. Besar kecil anggota kelompok tersebut.
  3. Sistem ide (ideologi) yang ada di dalam kelompok tersebut.
  4. Kepentingan atau tujuan kelompok tersebut.
  5. Wilayah geografis.
Simmel dalam Systematic Society mendasarkan pengelompokannya pada :
  1. Besar kecilnya jumlah anggota kelompok
  2. Cara individu dipengaruhi kelompoknya atau individu mempengaruhi kelompok.
  3. Interkasi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.
Simmel memulainya dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang individu sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakan "monad," lalu dua individu yang dinamakan "dyad" dan tiga individu yang dinamakan "triad." Ukuran lain dari klasifikasi kelompok sosial itu berdasarkan tingkat interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.

Kelompok Sosial dipandang dari sudut pandang Individu

Pembagian kelompok sosial dari sudut pandang individu dapat dilihat dari :
  1. Keterlibatan individu dalam kelompok tersebut
  2. Keanggotaan individu tidak selalu bersifat sukarela, tapi bisa bersifat wajib.
  3. Kelompok sosial juga bisa didasari oleh kekerabatan, usia, sex (gender), pekerjaan dan status sosial.
In Group dan Out Group

Menurut Polaj (1966 : 166) konsep In Group dan Out Group adalah "cerminan dari adanya kecenderungan sifat "entnocentris" dari individu-individu dalam proses sosialisasi sehubungan dengan keanggotaannya pada kelompok-kelompok sosial tersebut. Sikap dalam menilai kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran-ukuran sendiri." Sikap mempercayai sesuatu ini yang disebut dengan "beliefs" yang diajarkan kepada anggota kelompok melalui proses sosialisasi, baik secara sadar atau tidak sadar.

Menurut Soerjono Soekanto (1984 : 120), sikap In Group biasanya didasari oleh perasaan simpati. Dalam In Group seringkali digunakan Stereotypen, yaitu gambaran-gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap suatu objek diluar kelompoknya. Out Group didasari oleh suatu kelainan dengan wujud antipati.

Primary Group dan Secondary Group

Charles Horton Cooley dalam Social Organization menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang luas dan mendasar dalam klasifikasi kelompok-kelompok sosial yang menyangkut perbedaan antar kelompok. Menurut Cooley Primary Group merupakan kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal-mengenal antara anggotanya serta kerjasama erat yang bersifat pribadi. Selo Soemarjan dan Soemardi (1964 : 604) dalam bukunya "Setangkai Bunga Sosiologi" menyatakan bahwa Primary Group merupakan kelompok kecil yang permanen berdasarkan saling mengenal secara pribadi diantara anggotanya.

Davis (1960 : 290) mengemukakan ciri-ciri khusus dari primary group sebagai berikut :
  1. Kondisi fisik. Cirinya adalah sifat saling kenal mengenal, kedekatan secara fisik dan emosional, adanya norma yang mengatur hubungan antara anggota-anggota dalam kelompok tersebut, dan kelompoknya biasanya kecil (anggotanya sedikit).
  2. Sifat hubungan primer. Bersifat kesamaan tujuan dari individu-individu dalam kelompok tersebut. Tujuan tersebut bersifat pribadi, spontan sentimental dan inklusif. Soekanto (1982 : 124) menyatakan bahwa sifat Inklusif adalag hubungan primer yang bersifat pribadi, mengandung arti hubungan tersebut melekat secara inheren pada kepribadian seseorang yang tidak mungkin digantikan oleh orang lain. Hubungan Inklusif didasarkan atas kesukarelaan dari pihak-pihak yang mengadakan hubungan tersebut. Sifat Inklusif juga berarti bahwa hubungan primer menyangkut segala sesuatu tentang perasaan, kepribadian dan tempramen.
  3. Kelompok-kelompok yang kongkret dan hubungan primer. Dalam kenyataan tidak ada primary group yang memenuhi hubungan ini secara sempurna. Hubungan primer yang masih murni biasanya terdapat pada masyarakat-masyarakat yang masih sederhana organisasinya, misalnya pada masyarakat pedesaan.
Rouceck dan Warren (1962 : 46) dalam "Sociology an Introduction" membatasi pengertian secondary group sebagai kelompok-kelompok besar yang terdiri dari banyak orang dan diantara individu itu tidak perlu saling mengenal secara pribadi dan sifatnya tidak langgeng.

Perbedaan antara Primary Group dan Secondary Group terdapat pada :
  1. Hubungan-hubungan atau interaksi sosial yang membentuk struktur kelompok sosial yang bersangkutan. Contohnya adalah bangsa, bangsa menunjukan struktur hubungan yang kurang harmonis antara anggotanya (rakyat dan pemerintah).
  2. Jika terdapat perselisihan diantara anggota kelompok primary group cenderung diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi pada secondary group norma hukum merupakan unsur pemaksa untuk menyelesaikan suatu perselisihan diantara anggota kelompok tersebut.
Gameinschaft dan Gesselschaft

Menurut Tonnies dan Loomis (1960 : 82) Gemeinschaft adlah bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan, bentuk utamanya dapat dijumpai dalam keluarga, kekerabatan, dan lain-lain. Gesselschaft adalah berupa ikatan pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat imajiner dan strukturnya bersifat mekanis. Gesselschaft berbentuk hubungan perjanjian berdasarkan ikatan timbal balik seperti ikatan perdagangan.

Ciri Gemeinschaft menurut Tonnies yaitu :
  1. Intimate : yaitu hubungan menyeluruh yang mesra
  2. Private : yaitu hubungan yang bersifat pribadi khusus untuk beberapa orang saja.
  3. Exclusive : yaitu bahwa hubungan yang terjadi hanya untuk "kita" saja dan tidak untuk orang-orang diluar "kita".
Menurut Tonnies ada 3 tipe Gemeinschaft, yaitu :
  1. Gemeinschaft by blood : Ikatan yang berdasarkan pada keturunan darah, contoh keluarga.
  2. Gemeinschaft of place : Ikatan yang berdasarkan kedekatan tempat tinggal, contoh tetangga.
  3. Gemeinschaft of mind  : Ikatan yang mendasarkan diri pada jiwa dan pikiran yang sama berdasarkan persamaan ideologi.
Menurut Soekanto (1982 : 129) Gemeinschaft dan Gesselschaft adalah penyesuaian dari dua bentuk kemauan asasi manusia yang dinamakan wassenwile dan kurwile. Wessenwile merupakan bentuk kemauan yang dikodratkan dengan dasar perasaan dan akal yang merupakan kesatuan dan terikat pada kesatuan hidup yang alamiah dan organis. Sedangkan kurwile adalah bentuk kemauan yang ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu yang sifatnya rasional, dimana unsur lainnya bersifat sebagai alat.

Menurut Max Weber, Gemeinschaft dan Gesselschaft dinyatakan sebagai "Ideal Typus" yang dalam kehidupan kesehariannya masyarakat menunjukannya dalam bentuk campuran antara Gemeinschaft dan Gesselschaft.

Formal Group dan Informal Group

Formal Group merupakan kelompok-kelompok yang mempunyao peraturan-peraturan tegas yang sengaja diciptakan untuk mengatur hubungan diantara anggotanya. Formal group bisa dikatakan sebagai association dimana anggotanya mempunyai kedudukan yang disertai dengan pembagian tugas dan wewenang. Kriteria rumusan formal group adalah merupakan keberadaan tata cara untuk memobilisasikan dan mengkoordinasikan usaha-usaha yang ditujukan untuk mencapai tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat spesialisasi. Artinya formal group adalah suatu kelompok yang memiliki peraturan peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara anggota-anggotanya. Contohnya adalah Himpunan Mahasiswa (HIMA).

Informal group adalah suatu kelompok yang terjadi karena kesamaan yang sifatnya tidak mengikat anggotanya seta tidak memiliki struktur dan organisasi yang pasti. Informal group terbentuk biasanya oleh intensitas pertemuan yang sering orang-orang yang mempertahankan kepentingan dan pengalaman bersama.

Kelompok-kelompok Sosial yang Tidak Teratur

Kelompok sosial yang tidak teratur dapat digolongkan ke dalam 2 golongan besar yaitu kerumunan dan publik. Kerumunan adalah suatu kelompok manusia yang bersifat sementara, tidak terorganisir dan tidak mempunyai seorang pemimpin serta tidak mempunyao sistem pembagian kerja. Ciri-ciri kerumunan yaitu :
  1. Interaksinya bersifat spontan.
  2. Orang-orang yang berkumpul mempunyai kedudukan yang sama.
Ada beberapa macam kerumunan, antara lain :
  1. Kerumunan Formal. Yaitu kerumunan yang memiliki pusat perhatian dan tujuan, biasanya bersifat pasif. Contohnya yang menonton film di bioskop, orang yang menghadiri pengajian dan lain-lain.
  2. Kerumunan Ekspresif. Contohnya kerumunan orang yang menghadiri pesta.
  3. Kerumunan Sementara. Contohnya pengantri karcis.
  4. Kerumunan orang panik (panic crowds).
  5. Kerumunan penonton (spectator crowds).
  6. Keumunan yang berlawanan dengan hukum (lawless crowds). Contohnya kumpulan orang yang bertindak emosional dalam demonstrasi atau unjuk rasa (Acting mobs) dan kumpulan orang yang mabuk-mabukan (Immoral mobs).
Publik adalah kelompok yang tidak membentuk kesatuan. Interaksi yang terjadi berlangsung melalui alat-alat komunikasi pendukung, seperti pembicaraan berantai secara individual, media massa maupun kelompok. Setiap aksi publik dipengaruhi oleh keinginan individu, jadi tingkah laku pribadi dari publik pun didasari oleh tingkah laku individu atau perilaku individu.

Masyarakat Pedesaan (Rural Community) dan Masyarakat Perkotaan (Urban Community)

Soerjono Soekanto (1982 : 149) mengemukakan beberapa ciri yang membedakan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, yaitu :
  1. Kehidupan Keagamaan. Masyarakat pedesaan mengarah kepada kehidupan yang agamis, sedangkan masyarakat perkotaan mengarah kepada kehidupan duniawi. Hal ini dilandasi oleh cara berfikir yang berbeda.
  2. Kemandirian. Hal terpenting bagi masyarakat perkotaan adalah individu sebagai perseorangan yang memiliki peran serta status dalam masyarakatnya. Pada masyarakat pedesaan individu tidak berani menunjukan eksistensinya dan kurang berani untuk menghadapi orang lain dengan latar belakang yang berbeda.
  3. Pembagian Kerja. Pada masyarakat perkotaan pembagian kerja lebih tegas dan jelas, sehingga mempunyai batas-batas yang nyata. Pada masyarakat pedesaan adalah kebalikannya.
  4. Peluang memperoleh Pekerjaan. Dengan adanya sistem pembagian kerja yang tegas maka kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan lebih banya pada masyarakat perkotaan dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Hal ini juga dilihat dari faktor tingkat pendidikan.
  5. Jalan Pikiran. Pola pikir rasional pada masyarakat perkotaan memungkinkan terjadinya interaksi berlandaskan kepentingan bukan faktor pribadi.
  6. Jalan Kehidupan. Jalan kehidupan yang cepat (roda kehidupan yang cepat) bagi warga kota menempatkan dihargainya atau pentingnya faktor waktu dalam mengejar kehidupan individu.
  7. Perubahan Sosial. Pada masyarakat perkotaan memungkinkan perubahan sosial lebih berguna dibandingkan masyarakat desa karena mereka lebih terbuka bagi adanya perubahan.



Referensi :
Materi ajar dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos

0 komentar:

Poskan Komentar